Mahasiswa ITS Juara dalam Ajang Idea



Terpacu untuk mengharumkan nama ITS dalam bidang keprofesian Jurusan Teknik Industri (JTI), Muchtarul Faisol dan tim berhasil menjadi jawara dalam ajang Industrial Engineering on Action (Idea), Senin (27/4). Ajang yang diadakan oleh JTI Universitas Andalas (Unand) itu mengundang puluhan peserta dari berbagai universitas dalam tingkat nasional.
Idea merupakan kompetisi baru dalam rangkaian acara Industrial Festival yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Unand. Lomba keilmuan TI yang sudah dua kali diadakan ini mengangkat tema enhancing national logistic performance by exploring the maritime power.


Keikutsertaan Muchtarol Faisol dan tim berawal dari esai yang mereka kirimkan. Esai tersebut sengaja mengangkat lean yang ada di pelabuhan. "Lean adalah suatu cara bagaimana menghilangkan segala macam aktivitas yang tidak memberi nilai tambah di sepanjang aliran proses bisnis," ujar mahasiswa yang akrab disapa Fais ini.

Dari hal tersebut, Fais beserta dua temannya yang lain yaitu Pamungkas Dwi Atmaja dan Christmas Evan berpikiran untuk meningkatkan kemaritiman. Namun fokus utamanya pada sektor pelabuhan terlebih dahulu. Pasalnya, kemampuan logistik di Indonesia dimulai dari peningkatan sektor pelabuhan.

Alhasil, setelah mengirimkan esai, tak disangka Fais dan tim dinyatakan lolos seleksi dan berhak maju menjadi 15 besar finalis Idea yang akan diselenggarakan di Unand, Padang.  Setelah berangkat ke Unand, Fais dan tim mengikuti serangkaian acara untuk menuju babak final.

Fais menceritakan, saat di Unand rangkaan lomba terbagi menjadi tiga babak, babak  pertama terdiri dari pengerjaan soal pilihan ganda, normal esai dan esai namun dengan sistem taruhan atau 
betting. Usai mengikuti babak pertama, pada babak kedua lomba berupa simulasi permainan rantai pasok. "Di tahap tersebut, masing-masing anggota berperan sebagai distributor, retailer dan manufaktur. Simulasi tersebut bertujuan untuk memenuhi permintaan yang ada di suatu pasar," terangnya.

Barulah setelah menjalani dua tahap, finalis yang awalnya berjumlah 15 tim diseleksi kembali menjadi lima tim. Fais tak menyangka jika timnya ternyata bisa lolos kembali dan berhak maju ke babak terakhir yaitu studi kasus.

Di babak studi kasus, Fais menjelaskan para finalis dibawa ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Di sana mereka disuruh untuk mengeksplor permasalahan yang ada di tempat tersebut. Kali ini, Fais dan tim mencoba mengangkat utilisasi fasilitas yang ada di pelabuhan. Menurutnya, fasilitas yang terdapat di pelabuhan tersebut terlalu banyak dan tidak menyesuaikan dengan kebutuhan

Dari hasil tersebut, Fais dan tim mencoba untuk mengoptimasikan kebutuhan fasilitas yang ada di pelabuhan. Mereka pun menggunakan metode kuantitatif seperti 
forecast demand untuk menemukan titik optimal fasilitas pelabuhan. Setelah mengitung, mereka mendapatkan bahwa kebutuhan fasilitas yanga ada di pelabuhan hanya memerlukan dua fasilitas alat.

Objek amatan yang mereka ambil adalah peti kemas. Setelah dianalisa dari permintaan sesuai dengan keadaan tahun depan yang sudah memasuki era Asean Economic Community, maka diasumsikan permintaan akan terus naik. "Apalagi pelabuhan Teluk Bayur termasuk pelabuhan 
first class yang berfungsi untuk ekspor dan penyebaran di kota Padang saja,'' ungkap mahasiswa angkatan 2011 ini.

Setelah mendapat senjata untuk dipresentasikan, mereka pun mempresentasikan hasil studi kasus yang didapat di hadapan juri dari Kementerian Perekonomian dan dosen Unand. Dari hasil perhitungan, mereka menunjukkan ternyata sampai 2023 maksimal fasilitas yang dibutuhkan hanya tiga dari empat fasilitas yang ada. Itu pun, untuk bulan tertentu seperti bulan puasa dan tahun baru.

Dari studi kasus yang dijalani, mereka memberikan rekomendasi pada pihak pelabuhan untuk mengurangi fasilitas agar tidak sia-sia dan membuang tenaga. Uniknya, yang diyakini Fais sehingga berhasil menang adalah cara timnya dalam mengolah data. "Jika tim lain hanya menggunakan metode kualitatif maka kami menggunakan metode kuantitatif agar sesuai perhitungan. Jadi mungkin disitu letak keunggulan kami," jelasnya.

Setelah presentasi, Fais dan tim pun menunggu hasil pengumuman. Tak disangka lagi, timnya kembali diumumkan sebagai juara pertama dalam lomba Idea ini. Sebelumnya, JTI ITS juga pernah memenangkan kompetisi serupa pada 2014 kemarin dan menyabet juara pertama. "Bedanya tahun kemarin memang bukan tim kami, tapi Alhamdulillah bisa tetap mempertahankan posisi juara," ujarnya.

Sempat Tidak Jadi Berangkat

Dana tentu menjadi penyokong dalam setiap kegiatan. Fais menceritakan kendala yang dihadapi timnya terkait keterbatasan dana untuk berangkat. Untungnya, ia mendapat dana sponsor dari salah satu perusahaan swasta. Namun disayangkan, terdapat tim lain yang tidak jadi berangkat karena keterbatasan tersebut.

Ia pun berharap agar selanjutnya pihak ITS bisa memberikan jalan kepada peserta lain nanti yang akan bertanding untuk masalah keterbatasan dana. Memang, untuk mendaftar ulang jika sudah masuk tahap finalis diperlukan dana 2,7 juta. "Dana tersebut hanya berupa pendaftaran dan tidak termasuk tiket akomodasi pesawat. Belum lagi akomodasi dari bandara ke penginapan," tandasnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa ITS Juara dalam Ajang Idea"

Post a Comment