IPK Jeblok, Universitas Brawijaya Berhentikan Mahasiswa Afirmasi



Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, terpaksa memberhentikan (drop out) sejumlah mahasiswa yang mengikuti program afirmasi dari berbagai daerah Indonesia. Pasalnya, mereka tidak memenuhi persyaratan capaian indeks prestasi.
Wakil Rektor I UB Prof Dr Bambang Suharto di Malang, Senin (26/1/2015) mengakui, banyak mahasiswa program afirmasi yang sebagian besar dari kawasan Indonesia timur itu terpaksa di-DO sebelum lulus karena indeks prestasinya kurang dari ketentuan minimal, yakni 2,00.

"Saya pernah mengusulkan agar para calon mahasiswa afirmasi ini ketika naik kelas XII (3 SMA) sebaiknya langsung dikirim ke daerah yang menjadi tujuan kuliah dan meneruskan pendidikan SMA-nya di kota bersangkutan agar bisa mengikuti pelajaran serta menyesuaikan dengan iklim pendidikan di lingkungan kampus yang bakal menjadi tujuan kuliahnya," kata Bambang.
Menurut dia, kelas matrikulasi tersebut dibutuhkan siswa-siswi SMA yang akan mengikuti program afirmasi sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan kualitasnya. Sebab, lanjutnya, kemampuan rata-rata mereka cukup memprihatinkan, sehingga harus ada terobosan yang mampu mengangkat kemampuan mereka ketika sudah duduk di perguruan tinggi.
Bambang tidak menampik, Ditjen Dikti telah menyeleksi peserta program afirmasi tersebut dengan berbagai tes. Namun, hasilnya tetap saja. Selain UB, kata Bambang, berbagai kampus yang menerima mahasiswa afirmasi juga mengalami masalah serupa.
"Bukan kami diskriminasi, justru kami mengusulkan matrikulasi itu untuk memperbaiki kemampuan mereka agar kelak atau setelah lulus kuliah tidak menemui kesulitan beradaptasi dalam dunia kerja, bahkan mampu bersaing dengan lulusan lainnya," Bambang menegaskan.
Hanya saja, lanjut Bambang, usulan tersebut belum direspons optimal Ditjen Dikti karena terkendala pendanaan. Akibatnya, seleksi mahasiswa program afirmasi pun tetap seperti sebelum-sebelumnya.
"Padahal, kalau mereka bisa mengikuti pelajaran di SMA di sekitar kampus tujuan, pasti hasilnya akan lebih baik dan mereka yang di-DO bisa diminimalisasi," imbuhnya.
Menurut Bambang, ketidakmampuan para mahasiswa afirmasi memenuhi standar nilai atau indeks prestasi itu bukan karena mereka tidak mampu. Penyebabnya lebih kepada kebiasaan dan budaya yang membuat mereka tertinggal jauh dari mahasiswa lain.
"Sebenarnya mereka mampu mengikuti perkuliahan, namun karena mereka jarang masuk dan budaya 'istirahat' cukup panjang, mereka menjadi tertinggal dan akhirnya berdampak pada nilai," ujarnya.
UB menerima 79 mahasiswa program afirmasi pada 2012, 100 mahasiswa pada 2013 dan 16 mahasiswa pada 2014. Kuota mahasiswa afirmasi di UB tahun ini masih belum ditentukan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "IPK Jeblok, Universitas Brawijaya Berhentikan Mahasiswa Afirmasi"

Post a Comment