Faisal Oddang Lambungkan Nama Unhas

Keberhasilan karya cerita pendek (cerpen) Faisal Oddang, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin terpilih sebagai Cerpen tahun 2014 Harian Kompas telah melambungkan nama almamaternya. Faisal Oddang berhasil menyingkirkan sejumlah nama terkenal, sehingga sukses menempatkan diri sebagai penulis nasional.
‘’Prestasi Faisal ini telah mengangkat nama Unhas menjadi sangat positif,’’ kata Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. ketika menerima penulis muda berbakat, Faisal Oddang (21) di ruang kerjanya, Senin (15/6) petang. 
foto : makassar.tribunnews.com

Didampingi Dekan Fakultas Ilmu Budaya Prof.Drs.Burhanuddin Arafah, M.Hum, Ph.D dan Ketua Jurusan Sastra Unhas Dr.AB Takko, Dwia menjanjikan beasiswa kepada Faisal untuk melanjutkan pendidikan magister, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Unhas.
‘’Tetapi jangan S-2 di Unhas, harus keluar,’’ kata Dwia.
Rektor Unhas juga menjanjikan direkomendasikan sebagai dosen di Unhas setelah menyelesaikan pendidikan magister. Sejak sekarang Dwia minta Faisal harus ‘magang’ menjadi dosen untuk kepenulisan. 
‘’Unhas perlu memberikan award, hadiah khusus kepada Faisal berkaitan dengan prestasi gemilangnya itu,’’ kata Dwia tanpa menyebut penghargaan yang dimaksud.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas Burhanuddin Arafah juga mengusahakan beasiswa bagi penulis kelahiran Sengkang Wajo ini guna menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Dalam dialog di ruang kerjanya, Dwia juga bertanya kepada Faisal, kenapa tidak memberitahu Dekan Fakultasnya kalau akan menerima penghargaan dari harian terbesar di Indonesia itu. Faisal mengatakan, dia sama sekali tidak mengetahui kalau akan menjadi pemenang sebagai penulis cerpen pilihan Harian Kompas tahun 2014.
Untuk mengikuti pertemuan pengarang muda ASEAN di Mahidol University, Thailand, Faisal hanya mendaftar dengan menggunakan kartu mahasiswa. Tidak sempat mengurus rekomendasi dari Unhas. Faisal sudah terpilih mewakili Indonesia, namun pihak Mahidol University masih berkoordinasi dengan pemerintah Thailand perihal jadwal pelaksanaannya.
‘’Nanti kita kasih penghargaan. Ini sudah luar biasa,’’ potong Dwia yang bangga mahasiswa Sastra Unhas itu meraih predikat sanggat bergengsi tepat setahun lebih dirinya memimpin Unhas.
Kata Dwia, ‘’kalau kayak Faisal mau jadi dosen, kita tutup mata terima tokh. Berapa IP-mu? Sastra apa?,’’ tanya Ibu Rektor.
‘’Tiga koma enam. Dari Sastra Indonesia,’’ jawab Faisal.
Mendengar jawab Faisal, Dwia mengatakan, Faisal harus membantu-bantu (mengajar kepenulisan) dari sekarang sebagai asisten, apa tokh,’’.
‘’Nanti saya bicara sama WR III mesti dapat insentif dulu ini. Sekarang, kalau mahasiswa yang berprestasi seperti ini, kita berikan penghargaan,’’ imbuh Dwia.
‘’Bayangkan saingannya ini.., saya kira anak muda semua. Saingannya Putu Wijaya, Djenar Maesa Ayu, Eep Saifullah, Des Alwi. Kau harus sujud syukur. Saya mau baca, apa sih kelebihanmu itu. Harusnya waktu datang disambut,’’ jajal Dwia yang penasaran dengan rahasia keberhasilan Faisal yang baru tiba dari Jakarta beberapa puluh menit sebelum diterima. 
‘’Kalau kau mau menjadi dosen, dengan prestasi ini sudah ada pertimbangan khusus. Asal jangan S-2 di Unhas, harus di luar. Kan ada beasiswa. Ya, selamat. Bagaimana bapak dan ibumu?,’’ imbuh Dwia. 
‘’Bapak dan ibu di Sengkang,’’jawab Faisal.
‘’Terus apa hadiahnya dari Kompas?’’ usut Ibu Rektor.
‘’Ada, pembeli buku,’’ jelas Faisal.
;;Berapa, saya ingin tahu,’’ uber Dwia yang dijawab dengan polos oleh Faisal termasuk tiket dan akomodasi di hotel di Jakarta.

Cerpen Faisal Oddang yang berjudul ‘’Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon’’ menjadi judul buku yang berisi 24 karya cerpen penulis tenarna tanah air. Mereka itu adalah Budi Darma, Putu Wijaja, Soepardi Djoko Damono, Seno Gumira Adjidarma, Radar Panca Dahana, Djenar Maesa Ayu, Parakitri T.Sombolon, Gde Aryantha Soethama, Afrizal Malna, Yanuza Nugroho, Gus tf Sakai, Indra Tranggono, Triyanto Triwikromo. Di dalam buku itu terdapat pengarang-pengarang terkini, seperti Guntur Alam, Anggun Prameswari, Tenni Purwanti dan Faisal Oddang.
Kepada Humas Unhas, Faisal Oddang mengatakan, cerpennya itu berkisah bagaimana satu mayat bayi dimakamkan di atas pohon yang berfungsi sebagai ibu. Mayat bayi itu belum dianggap kuat berjalan ke surga, sehingga perlu dirawat di pohon.Setelah ‘dewasa’ secara roh, baru dipindahkan.
Di dalam buku yang memuat 24 cerpen pilihan Kompas, disebutkan bahwa karya Faisal berpihak pada keunikan budaya di Indonesia dan mencirikan keragaman Indonesia.Tokoh ‘’aku’’ di dalam cerita ini adalah seorang bayi yang sudah meninggal dan dikuburkan di pohon yang ‘’merawat’’-nya sampai dia kuat berjalan menuju surga..
‘’Dari mana kau dapat informasi itu?,’’ tanya Dwia.
‘’Dari bahan bacaan,’’ jawab Faisal.
‘’Jangan-jangan pacarnya orang Toraja,’’seloroh Dwia yang disambut sorak tawa yang hadir di ruang kerja Rektor Unhas di sore yang kian tipis itu. 
‘’Kau dapat beasiswa?,’’ Dwia tidak henti-hentinya mencocor Faisal dengan pertanyaan.
‘’Saya tidak pernah urus beasiswa,’’ balas Faisal.
‘’Nanti kalau kamu mau ikut kuliah S-2, saya berjuang untuk kamu. Kalau saya rekomendasikan, kau pasti berhasil. Nanti kita diskusikan kita mau kasih hadiah pada kamu,’’ kata orang nomor satu Unhas itu, yang ditimpali Burhanuddin Arafah yang meminta Faisal bertemu di Dekanat Sastra guna membicarakan beasiswa bagi kelanjutan pendidikan S-1, Faisal.
Ibu Rektor Unhas juga minta Faisal menyelesaikan pendidikannya di Unhas tahun depan. Dua tahun berikutnya harus menyelesaikan program magister, ujung-ujungnya Dwia masih punya waktu tersisa sebagai nakoda Unhas empat tahun pertama. 
‘’Selamat, ya, Faisal. Barangkali kau sudah mau ketemu pacarmu,’’ Rektor tidak henti-hentinya mengganggu mahasiswanya yang berprestasi luar biasa di bidang kepenulisan itu.
‘’Belum ada!,’’ jawab Faisal polos.
‘’Kamu harus low profile dan rendah hati. Kamu nanti biasa jadi miliarder. Nanti akan terus dikejar oleh Gramedia. Tolong bikinkan novel,’’ harap Dwia lagi.
Faisal mengatakan bahwa novelnya yang memenangkan lomba di Dewan Kesenian Jakarta akan diterbitkan oleh Gramedia. 

Dwia Aries Tina Pulubuhu mengharapkan kepada Dekan Fakultas Ilmu Budaya bahwa ketika Faisal Oddang diwisuda agar tampil berbicara mewakili para wisudawan. Faisal kemudian menghadiah satu-satunya buku kumpulan cerpen Kompas tahun 2014 kepada Rektor Unhas dan bergambar bersama.
Lokalitas Sulsel

Dalam wawancara dengan Satriani M. dari Majalah ‘’Identitas’’ Unhas, Faisal yang anak petani ini mengakui, dalam menulis selalu menampilkan kisah yang berlatarbelakang lokalitas Sulawesi Selatan, Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Dia mengaku, tidak bisa menulis tentang masyarakat urban, karena memang dia tumbuh di lingkungan tradisional dan di kampong yang erat dengan mitos-mitornya. Masih banyak pantangan dan tantangannya. Jadi, di dalam dirinya tertanam suara-suara lokal seperti itu. Jika dia tumbuh di Jakarta yang urban, mustahil dapat menulis seperti ini (tentang Toraja).

Di buku novel yang akan terbit, kata Faisal, juga membahas tentang lokalitas Toraja. Apa pun bentuknya, dia tidak bisa melepaskan diri dari setting lokal. Tentang arwah-arwah di Toraja yang sudah meninggal. Dia memperoleh inspirasi seperti itu dari interaksinya dengan teman-temannya. Diskusi yang bersumber dari buku-buku. 
Hingga saat ini, meski belum ada orang yang di KTP-nya mencantum pekerjaaannya sebagai penulis, Faisal belum berniat berhenti menulis. Negara ini tidak adil, tidak pernah mengakui seseorang sebagai penulis, namun menarik pajak dari karya para penulis. 

Faisal sudah mulai menulis sejak SMA. Buku-buku yang dibacanya bersumber di perpustakaan sekolah. Setelah menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas, ayahnya yang petani kerap bertanya perihal apa lagi yang ditulis anaknya. 
‘’Orangtuaku selalu bertanya. Apa tulisan barumu sekarang. Kirimkan,’’ kata Faisal men irukan harapan orangtuanya. Menghadapi pertanyaan ayahnya seperti itu, Faisal jadi tidak enak menulis. Menulis lagi supaya ada yang dia bisa baca.
Yang juga membuat Faisal semangat adalah ibunya adalah pekerja rumah tangga dari seorang ayah yang petani. 
‘’Apa bukumu yang baru,’’ begitu ayahnya kerap bertanya.
Ini adalah sebuah pertanyaan.yang luar biasa dari seorang ayah yang bukan pekerja kantoran macam seorang guru atau dosen. ***.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Faisal Oddang Lambungkan Nama Unhas "

Posting Komentar