Sepeda Listrik dari Bambu ala Mahasiswi ITS

Demi persyaratan merampung objek skripsi, maka tugas akhir kuliah harus diwujudkan. Bila perlu berjuang habis-habisan sampai akhirnya menciptakan kendaraan ramah lingkungan, sebagaimana yang dilakukan Sekar Ayu Lutfiana. Sekar, mahasiswi sementer VIII Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, ini menuangkan segudang idenya dengan membuat sepeda listrik dari bahan dasar bambu.
Melalui pameran Tugas Akhir (TA) di Gedung Pusat Robotika ITS beberapa waktu lalu, objek skripsi Sekar berupa sepeda listrik dari bahan bambu ditampilkan di muka umum. Sepeda yang diberi nama Booster itu didesain sebagai kendaraan wisata dan mampu berjalan selama tiga jam tanpa henti.

"Tujuan dari desain ini sendiri adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia menggunakan energi ramah lingkungan," ujar Sekar sebagaimana dikutip Okezone, Kamis (9/7/2015), dari laman ITS.
Menurutnya, energi alternatif yang digunakan sepeda listrik tersebut itu nantinya akan disimpan di dalam sebuah baterai. Selain itu, penggunaan bambu sebagai bahan utama sepeda dikarenakan struktur material bambu memiliki daya lentur yang lebih tinggi daripada kayu, plastik, ataupun serat fiber sekalipun, sehingga bambu lebih kuat.
"Modulus Young bambu sendiri hampir sama dengan yang dimiliki besi dibanding kayu," ujar Sekar.
Tak hanya itu, Sekar juga meneliti banyaknya bambu di Indonesia serta daya panen yang lebih singkat daripada kayu, yang menjadi salah satu alasan dirinya menggunakan bambu.
"Sekitar dua hingga tiga tahun bambu sudah bisa dipanen, sedangkan kayu butuh waktu minimal sepuluh tahun untuk bisa panen sehingga daya daur ulangnya rendah," ujar Sekar.
Lebih lanjut, ia mengatakan bambu yang ia gunakan merupakan jenis bambu Petung yang diproses melalui beberapa langkah.
"Proses-proses yang digunakan untuk treatment bambu sudah dari pabrik, jadi saya beli dari pabriknya," ujar Sekar.
Dirinya menjelaskan bambu yang telah mengalami treatment khusus akan jauh lebih kuat dan lebih ringan dibandingkan dengan bambu biasanya.
Mengenai lama waktu pengerjaan, Sekar membutuhkan waktu enam minggu untuk membuat satu unit sepeda Booster.
"Untuk laminasi bambunya membutuhkan waktu satu bulan dan instalasi mesin-mesinnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu," ujar Sekar.
Mengenai daya tahan baterai, ia meyakini sepeda Booster dapat beroperasi selama tiga jam jika baterai penuh.
"Tapi, lama kelamaan kan daya tahan baterai menurun, bisa jadi hanya tahan dua jam saja," ujar Sekar.
Mengenai desain, Sekar mengungkapkan desainnya terinspirasi dari kelopak bunga Frangipani sehingga cocok digunakan di tempat-tempat wisata. Rencananya, sepeda ini akan dipromosikan pada salah satu tempat wisata sebagai icon. Mengenai harga, Sekar membanderol harga Rp15-20 juta per unit.
"Namun, saya tidak ada niatan untuk menjualnya per satuan. Saya akan mempromosikan Booster ini kepada tempat wisata untuk diproduksi tidak hanya satu unit saja," ujar Sekar.



sumber : news.okezone.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sepeda Listrik dari Bambu ala Mahasiswi ITS"

Post a Comment