63 Tahun USU Medan Harus Jadi Pondasi Kebangkitan Kampus

Universitas Sumatera Utara (USU) harus segera bangkit dan berusaha mengejar ketertinggalan dari universitas di Pulau Jawa. Semua pihak diminta untuk mengedepankan kepentingan USU daripada kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Dalam momentum Dies Natalis tahun ini, kebangkitan USU menjadi satu momentum yang perlu dikedepankan. “Keluarga besar USU harus bergandeng tangan membangkitkan USU agar tidak lagi dipandang sebelah mata oleh universitas lain khususnya di P Jawa ,” kata Plt Gubernur Sumatera Utara Ir. H. Tengku Erry Nuradi, MSi dalam acara Dies Natalis USU ke 63 di Auditorium Kampus USU, Kamis (20/8/2015).


“Seharusnya USU menjadi ‘center of exellent’ seperti di Pulau Jawa, apalagi usia USU sudah sangat matang. Momentum 63 tahun USU harus menjadi pondasi kebangkitan kampus terbaik di Sumatera Utara ini,” katanya. Hadir dalam acara itu, Pj Rektor USU, Prof.Drs. Subhilhar, PhD, Pangkostrad , Mayjen TNI Edy Rahmayadi, Ketua Mejelis Wali Amanat, Joefly J Bahroeny, mewakili Kapoldasu, pejabat militer AU, AL dan pejabat sipil di Sumut serta para guru besar dan mahasiswa USU dan pakar pertanian, Ir H.S. Dillon, Ph.D.

Menurut Plt Gubsu, selama ini USU dipandang tertinggal dibanding Jawa, padahal di universitas ini banyak melahirkan pemimpin bangsa hebat. Ini membuktikan USU berkualitas dan sudah ternama. Melihat kondisi USU saat ini, tambahnya, di mana belum bisa menjadi universitas terbaik, merupakan cerminan, ada sesuatu hal yang salah dalam pengelolaan manajemen di universitas negeri yang berdiri pada 4 Juni 1952 ini. “Padahal, potensi USU untuk menjadi terbaik cukup besar, namun saat ini belum termaksimalkan. Civitas USU harus bersinergi secara optimal. Dulu USU, sangat disegani, bahkan pernah berada diperingkat lima besar terbaik universitas di Indonesia, namun kini sudah mulai menurun, namun, tidak ada kata terlambat, USU harus bangkit, ” kata Plt Gubsu kembali menegaskan.


Pj Rektor USU: Mari Bahu Membahu Membesarkan USU

Pj Rektor USU, Prof Subhilhar selain memaparkan kondisi dan prestasi yang telah ditorehkan USU, ia juga menyampaikan permohonan maaf jika harapan besar tentang USU belum terpenuhi. “Kita harus saling menopang, saling bahu membahu membesarkan USU. Semoga ruh dan semangat para perintis, pendiri, pemimpin terdahulu, alumni dan masyarakat memicu tekad kita untuk menjadikan USU yang terbaik,” tegasnya. Pj Rektor mengatakan, civitas USU masih mempunyai waktu, nurani, kemauan, dan komitmen untuk memperbaiki USU.”Mari kita singsingkan lengan sembari membuka mata hati meneguhkan semangat yang ikhlas untuk kebaikan USU,” ucapnya. Dia mengakui, saat ini banyak pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan dan diwujudkan agar USU menjadi perguruan tinggi terbaik dan memiliki kewibawaan di negara ini.Sebagai PTN-BH Universitas Sumatera Utara diwajibkan memiliki Akreditasi Institusi A dan sekurangnya 80%  dari jumlah prodi memiliki peringkat akreditasi A (124 prodi). Sementara saat ini baru 16 prodi di Universitas Sumatera Utara yang memiliki peringkat akreditasi A.

Pj Rektor kemudian menyampaikan jika evaluasi kinerja 2015 belum mencapai hasil maksimal. Hal itu terjadi karena rendahnya akreditasi institusi dan prodi disebabkan masih lemahnya sistem dokumentasi dan informasi kegiatan tenaga pendidik yang dibutuhkan. Kemudian kurangnya koordinasi antar unit/bagian di universitas, dan kurangnya dukungan fasilitas dan pendanaan selama ini. Untuk itu pimpinan universitas akan melaksanakan program percepatan akreditasi program studi seperti: Merevisi dan melaksanakan sistem kerja percepatan akreditasi,Membangun sistem informasi yang terintegrasi mulai dari tingkat prodi hingga universitas, dan Segera melakukan reakreditasi prodi yang berpotensi menjadi A.

Pj Rektor pada kesempatan itu juga menyampaikan jika pada 2010-2014 kerjasama dengan lembaga eksternal cenderung fluktuatif. Namun pada tahun 2011 dan 2012 terjadi penurunan angka kerjasama sebesar 47,9%, tahun 2013 naik sebesar 33,15%, dan turun kembali di tahun 2014 sebesar 32%. Hal itu terjadi karena hambatan dimana kerja sama cenderung terpusat di USU, kurang pendistribusian pada kegiatan prodi S1, S2 dan S3. Kemudian upaya yang dilakukan adalah lembaga penelitian perlu memaksimalkan kerjasama penelitian dan memberikan jasa konsultansi.

Pada akhirnya, Pj Rektor menyatakan, kita masih mempunyai waktu, nurani, kemauan dan komitmen untuk memperbaiki Universitas Sumatera Utara. ‘’Mari bersama kita singsingkan lengan sembari membuka mata hati meneguhkan semangat yang ikhlas, sembari berdoa untuk kebaikan Universitas Sumatera Utara. Mewujudkan USU sebagai Universitas dengan daya saing internasional diperlukan kerja keras dan bantuan dari seluruh pihak. Mengajak semua pihak agar dapat bangkit dengan semangat baru menuju sinergitas, sehingga mampu meningkatkan kinerja demi terwujudnya cita-cita kita bersama,’’ demikian Pj Rektor Prof.Drs.Subhilhar, PhD.

Sementara Ketua Majelis Wali Amanat USU, Joefly J Bahroeny mengatakan, masa periode jabatannya sebagai ketua MWA akan berakhir dan menegaskan tidak akan mencalonkan diri lagi pada pemilihan ketua MWA.

Orasi

Dalam puncak Dies Natalis itu juga dihadirkan Ir H S Dillon, PhD yang dalam orasinya ilmiahnya mengatakan, kunci kemajuan bangsa adalah mengasah telenta-telenta terdidik untuk menghidupi yang tumbuh subur di dalam rahim bumi pertiwi. Universitas merupakan lahan subur merancang gagasan-gagasan besar menyemai benih-benih perjuangan demi kejayaan bangsa. Universitas harus mempu membawa rakyat menyusuri pintu gerbang kesejahteraan. Dia mengatakan, Presiden Joko Widodo dengan nawacitanya ingin menampik warisan ketidakadilan dalam semua matra kehidupan bangsa. Namun, beliau menghadapi masalah besar yaitu, karakter manusia Indonesia yang terperangkan dalam mind-set feodal kolonial. Sejarah mencatat bahwa mental kolonial feodal perkebunan sudah sedemikian merasuk anak bangsa ini.

Menurut Dillon, dalam empat tahun mendatang Presiden Jokowi perlu mengerahkan segala daya dan dan untuk meletakkan landasan loncatan 30 tahun ke depan.”Jika rencanamu satu tahun tanamlah padi, jika 10 tahun tanamlah pohon, jika 100 tahun didiklah generasi selanjutnya,” katanya.

HS Dillon yang merupakan alumni FP USU pada saat itu mengajak warga Universitas Sumatera Utara mengenang wejangan leluhur:
"Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat."
(Raja Ali Haji, 1847: penggalan Gurindam XII, pasal 11.
Maknanya:
Berjasalah bagi negara dan bangsa,
optimalkan setiap kemampuan yang kita punya
sehingga kita bisa mengharumkan nama bangsa.
Jadilah pemimpin yang tidak mempunyai sikap tercela.




Source : usu.ac.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "63 Tahun USU Medan Harus Jadi Pondasi Kebangkitan Kampus"

Posting Komentar