SBY Usulkan UPI Bandung Bangun Peace Education Center


Universitas Pendidikan Indonesia menjadi penggagas dan harus menjadi pemrakarsa mewujudkan proses pendidikan kedamaian. Sebab, UPI merupakan center of excellence sebagai pelopor peace education yang bertugas membangun manusia, masyarakat, negara, dan dunia melalui pendidikan kedamaian. Hal tersebut diungkapkan Presiden Republik Indonesia ke-6 Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat memberikan kuliah umum perdana bagi mahasiswa baru angkatan 2015 UPI, bertema “Pendidikan Kedamaian untuk Memperkokoh Jati Diri Bangsa”, di Gedung Gymnasium UPI, Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Rabu (2/9/2015).

Presiden RI dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014, ini mengharapkan UPI dapat mengembangkan peace education dengan cara membangun manusia, masyarakat, negara, dan dunia, melalui jenjang pendidikan kedamaian. Adapun pendidikan melalui jenjang nonformal dilakukan melalui proses pendidikan nilai, alam pikiran, pengetahuan, dan perilaku yang sarat dengan perdamaian. UPI juga diharapkan mengembangkan pendidikan dan pelatihan bagi para juru damai, pelerai konflik.
“Bangun Peace Educatioan Center, kembangkan dan implementasikan substansi metodologi pendidikan kedamaian, aktiflah selenggarakan forum, seminar dan konferensi tentang peace education, bangun kemitraan dan kerja sama dengan institusi lain dalam dan luar negeri,” ujarnya.

SBY mengatkan, kaitan kedamaian dengan jati diri bangsa salah satunya adalah dengan cinta damai, karena Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan, NKRI harga mati. Sementara orang bijak berkata, bila ingin damai maka damailah di hati damai di Bumi, jika pikiran kita damai, maka kita pun ikut menciptakan kedamaian di muka bumi. Not war but peace is the father of all things.
“Kedamaian tujuan besarnya adalah menciptakan masyarakat yang maju, sejahtera, adil, rukun, dan damai. Indonesia yang aman, dan damai, serta damai dengan negara lain. Dunia yang lebih aman dan damai, jauh dari konflik, kekerasan dan peperangan, maka kelak akan melahirkan juru damai di Indonesia,” ujar Yudhoyono.
Kedamaian bukan hanya tidak ada perang, katanya, tapi ada kebajikan alam pikiran yang mencintai kedamaian, empati kepada yang lain, tegaknya keadilan, dan ketika elemen tersebut ada, maka kedamaian dan perdamaian akantegak. “Dalam konteks kehidupan masyarakat, jika masyarakatnya rukun, perilakunya tidak menyukai konflik, hidup jauh dari rasa takut. Dunia yang damai adalah sebuah ide mereka yang memiliki cita-cita, mind set yang tidak menyukai kekerasan, dan bangsa-bangsa mau bekerja sama untuk mencegah peperangan,” ujarnya.
Pengertian sederhana perdamaian, menurut SBY, adalah perdamaian dan kedamaian tewujud jika hatinya teduh, tidak gemar bermusuhan, mau hidup rukun dan damai dengan yang lain. Masyarakat bisa menjaga kerukunan dan toleransi jika ada konflik memilih dan bisa diselesaikan secara damai. Negara bisa menjaga persatuan dan integritas nasionalnya. “Benarkah tentara haus perang, dan anti perdamaian?” ujar Yudhoyono. Ternyata tentara pun menginginkan perdamaian, tidak harus berperang.

“Mengapa perdamaian penting bagi Indonesia, karena Indonesia masyarakat dan bangsa yang majemuk, benih dan akar konflik. Sejarah kita tak pernah sepi dari konflik. Indonesia saat ini tengah berada dalam perubahan besar, transformasi, dinamis, termasuk benturan. Indonesia hidup dalam era globalisasi, dengan geopolitik yang terus berubah,” katanya.
Membangun masyarakat Indonesia yang rukun, toleran dan dinamis, kata Yudhoyono, dilakukan dengan cara memperkuat akar perdamaian, pencegahan konflik dan benturan, resolusi konflik secara damai, paduan pendekatan keagamaan budaya, struktrural (aparat, pemerintah, dan sebagainya), pentingnya peran pemimpin dan tokoh agama, adat, masyarakat.
“Perkuat persatuan dan integrasi nasional dengan cara memperkokoh hubungan baik dan adil antara pusat dan daerah. Pemerataan pembangunan atau prosperity dan justice for all, liberty, demokrasi dan desentralisasi pemerintahan daerah dalam, stabilityand security. Pencegahan dan pengelolaan separatisme dan benturan ideology,” kata Yudhoyono selanjutnya.
Dikemukakan, peran dan kontribusi Indonesia dalam memelihara perdamaian dunia dilakukan dengan cara menjaga persahabatan dan hubungan baik dengan negara lain, aktif ikut serta dalam memelihara keamanan kawasan. Kontribusi Indonesia pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia bisa dilihat dalam keikutsertaan Indonesia dalam PKF di Bosnia, mediasi konflik Thailand-Kamboja, ikut mengakhiri perang Israel-Libanon, penyelasian Indonesia-Timor Leste, mempertahankan Ambalat, pembebasan kapal Indonesia di peraiaran Somalia, diplomasi internasional untuk pencegahan melebarnya perang di Timur Tengah, dan lain sebagainya.
Refleksi sejarah dan jalan menuju perdamaian, kata Yudhoyono, dapat dilihat dalam penyeleasian konflik Aceh yang selama 30 tahun mengalami konflik bersenjata, di Papua, penyelesaian dengan cara pemberikan otonomi khusus, new deal, afirmative actions situasi politik sosial keamanan dapat dikelola.
“Maka, bijak dan tepatlah mengelola Papua, di Sampit, Poso, Ambon, dan Maluku Utara, setelah berlangsung lima tahun konflik komunal berdarah bisa diakhiri melalui peace procces dan rekonsiliasi. Hasilnya nyata, lawan terorisme, intensitas aksi terorisme menurun drastis sejak tahun 2004, deteksi dini dan pencegahan berhasil, pencegahan konflik komunal sepanjang masa (tanpa banyak publikasi, negara, pemerintah dan aparat keamanan bekerja tanpa henti untuk mencegah konflik komunal), pembangunan IPSC (Indonesia Peace andSecurity Center) di Sentul. (source : berita.upi.edu)





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SBY Usulkan UPI Bandung Bangun Peace Education Center"

Post a Comment