Mahasiswa Unair Terpilih Menjadi Pemeran Utama Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)

Setelah Tim Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) berbulan-bulan mencari pemeran yang cocok sebagai Mas Gagah dalam Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), Akhirnya Hamas Syahid Izzudin, pemuda kelahiran Bengkulu yang menetap di Surabaya, terpilih sebagai Gagah Perwira Pratama (Mas Gagah). Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Semester 6 Universitas Airlangga (Unair) yang juga seorang Penghafal Al Qur’an ini.


foto : islamedia.id

Hamas Syahid Izzudin, sulung dari 4 bersaudara yang sarat prestasi. Ia juga punya usaha di bidang garmen dan kuliner.
“Saya tidak bercita-cita jadi bintang film, tetapi saya ingin melakukan syiar, dakwah melalui film,” kata Hamas. Ia mengaku belajar akting dari sang ibunda, Yulyani, tokoh masyarakat Jawa Timur yang di masa lalunya merupakan pegiat teater dan seni. “Saya baca buku karya Bunda Helvy ini sejak SMP,” kata Hamas. “Ya Allah saya sampai nangis membacanya dan setelah itu saya bilang ke teman-teman, kalian harus baca buku ini bagus banget dan bisa menginspirasi kita untuk berubah lebih baik!” tambahnya.
foto : hellohijabers.files.wordpress.com
Dunia peran, bagi Hamas, bukan hal baru. Sejak SMP, dia bermain teater, baik dalam pertunjukan umum maupun lomba. Dalam setiap perlombaan teater yang diikutinya, dia selalu menjadi juara. Salah satu prestasi yang disabetnya adalah juara I English Short Drama Competition dan juara II Teater Dinas Pendidikan Surabaya.
Meski sudah berpengalaman di dunia teater, Hamas mengaku grogi saat kali pertama berakting di depan kamera. Tetapi, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia terbiasa. Sang ibu menjadi salah seorang pelatih akting pribadinya. ”Belajar akting malah dari ibu. Dulu kan ibu pemain teater,” tambahnya.
Selain itu, Hamas sering menghabiskan waktu dengan melihat film yang diperankan artis idolanya. Antara lain, Shahrukh Khan, Deddy Mizwar, dan Reza Rahadian. Menurut dia, artis-artis tersebut memiliki karakter kuat setiap memerankan tokoh di dalam film yang dibintangi.
"Saya mengidolakan mereka untuk aktingnya saja. Bukan profilnya. Akting mereka sangat berkarakter,” ujarnya.


Novel Ketika Mas Gagah Pergi ditulis Helvy pada 1992 dan diterbitkan lima tahun kemudian.  Buku yang sudah dicetak ulang 39 kali oleh tiga penerbit itu mengisahkan hubungan Gita dengan abangnya Mas Gagah (Hamas Izzuddin) tentang hijrah dan keindahan Islam. 
Lewat KMGP, Helvy ingin menyampaikan keindahan islam lewat film dakwah yang tidak menggurui dan dapat diterima anak muda dari berbagai kalangan.  "Dari alay sampai rohis," ujar dia.  
Ada pula tokoh Yudi (Masaji Wijayanto) sebagai pemuda yang kerap berdakwah di tempat umum serta Nadia (Izzatin Ajrina), muslimah yang memutuskan berjilbab saat kuliah di Amerika. 
Adaptasi layar lebar KMGP dibuat dengan urun dana (crowdfunding) karena Helvy belum bertemu dengan Rumah Produksi yang sejalan dengan visinya. Sejak September 2014, Helvy telah berkeliling ke 100 kota untuk urun dana sekaligus sosialisasi film KMGP.  

Dana sebesar Rp300 juta telah terkumpul dari berbagai pihak, mulai dari penggemar novel KMGP hingga anak tukang sampah yang menyumbang Rp50.000 karena ingin turut berpartisipasi.  

Jumlah tersebut memang belum mencukupi, namun Helvy optimistis pengambilan gambar di Jakarta dan Maluku Utara dapat dimulai pada Oktober 2015 sehingga KMGP bisa tayang pada Januari tahun depan.  



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa Unair Terpilih Menjadi Pemeran Utama Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP)"

Post a Comment